Tampilkan postingan dengan label KTSP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KTSP. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Juli 2011

RPP MATEMATIKA KELAS IX

Tahun pelajaran baru tahun 2011/2012 digunakan sebagai momentum dan dicanangkannya Pendidikan Berkarakter.
Pendidikan berkarakter bertujuan untuk menghasilkan insan terdidik yang berkepribadian kokoh dan berkarakter kuat.
Melalui pendidikan berbasis karakter, harapannya semua jenjang pendidikan akan mampu mengeksplorasi potensi peserta didik, sehingga menjadi manusia Indonesia yang memiliki karakter yang mengedepankan nilai-nilai utama seperti jujur, bersih, rapi, peduli, etos kerja keras, dan bertanggung jawab.
Berkenaan dengan itulah kiranya , guru dituntut untuk dapat menyisipkan pendidikan karakter di semua mata pelajaran. Karena pendidikan karakter bukan hanya tanggung jawab guru mata pelajaran Kewarganegaraan atau Guru pendidikan Agama saja. Pendidikan karakter adalah tanggung jawab semua guru.
Untuk itu didalam pembelajaran dikelas ,seorang guru dituntut agar dapat menyisipkan karakter karakter utama seperti kejujuran, kebersihan , etos kerja, tanggung jawab, menghargai orang lain dan lain sebagainya, yang itu semua diharapkan mampu membimbing siswa menjadi siswa yang cerdas berkepribadian kokoh, dan berkarakter kuat.
Maka tak heran bila didalam persiapan pembelajarannya, guru dituntut untuk mampu mengembangkan silabus dan Rencana Program Pembelajaran yang memuat pendidikan berkarakter.
Bagaimana Bapak Ibu Guru ?
Sudah Membuat Silabus Berkarakter ?
Sudah Membuat RPP Berkarakter ?
Mari kita saling bahu membahu agar Program pemerintah untuk menciptakan insan Indonesia yang cerdas, berakhlaq Mulia and berbudi pekerti luhur dapat dapat segera tercapai.




RPP MATEMATIKA KELAS IX -
read more...

SILABUS MATEMATIKA SMP KELAS IX


SILABUS KELAS IX -
read more...

Rabu, 22 Desember 2010

Perkataan, ekspresi dan perbuatan.


Seorang gadis bertanya kepada ibunya, “ibu, marah ya ?”. Dengan wajah cemberut dan wajah yang marah ibu menjawab, “ Tidak, Ibu tidak marah”. Si anak berkata, “ibu pasti marah”. Ketika sang ibu berkata,”tidak, ibu tidak marah”. Sianak menjawab, “ kalau begitu bilang sama wajah ibu biar tidak kelihatan marah”. Jika demikian apakah anak akan percaya apa yang dikatakan ibu ataukah dia lebih percaya pada apa yang ia rasakan dan yang ia lihat ?
Demikian ilustrasi yang diberikan oleh Danie Beaulieu, PhD dalam bukunya “Impact Tehniques in The Classroom”
Beliau ingin menggambarkan bahwa sebenarnya bukan sekedar kata-kata yang dilihat anak, tetapi justru gerak tubuh, ekspresi dan intonasi suara lebih diperhatikan anak. Mereka lebih percaya pada apa yang ia rasakan dan ia lihat daripada apa yang ia dengar dari suatu perkataan.
Hal itu disebabkan karena memori eksplisit yang umumnya digunakan dalam pendidikan formal yang bersandarkan pada bahasa, logika dan rasionalitas hanya menyumbang 20% dari keberhasilan semua proses belajar. Sebaliknya memori implisit yang ditransmisikan nalar dan perasaan bahkan menyumbang 80% dari apa yang kita ingat.
Salah satu pengaruh fenomena diatas dalam pembelajaran adalah, bahwa kesesuaian antara apa yang kita katakana dengan apa yang kita lakukan , sikap tubuh, ekspresi wajah, intonasi suara sebenarnya menunjang agar pesan yang kita berikan dapat diingat dengan lebih baik oleh siswa, baik secara individu maupun kelompok. Itulah sebabnya mengapa sesorang harus fokus dalam berbicara, baik kepada siswa secara individu maupun secara klasikal. Jika saat bicara fikiran kita tidak fokus, maka gerak tubuh kita , intonasi dan ekspresi kita tidak sesuai dengan apa yang kita katakana. Akibat ketidaksesuaian kata –kata dan perilaku kita, akan mambuat siswa bingung karana tidak tahu pesan mana sebenarnya yang harus diikuti.
read more...

Kamis, 17 Juni 2010

Direct Instruction

Model Pembelajaran Langsung
( Direct Instruction )

Gagne (dalam Ismail ) menyatakan bahwa pakar teori belajar menggolongkan pengetahuan menjadi dua macam yaitu, pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Yang dimaksud dengan pengetahuan deklaratif adalah pengetahuan tentang sesuatu. Misalnya bidang diagonal adalah bidang yang terbentuk oleh dua buah rusuk yang saling berhadapan. Sedangkan pengetahuan prosedural adalah pengetahuan tentang bagaimana orang melakukan sesuatu. Sebagai contoh, bagaimana melukis garis bagi, garis tinggi suatu segitiga, bagai mana langkah menyelesaikan persamaan linier dua variabel, dan sebagainya. Oleh kaena itu , model pembelajaran lasung cocok untuk digunakan dalam menyampaikan materi yang bersifat pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural.Selanjutnya uraian selengkapnya mengenai model pembelajaran langsung ini penulis sarikan dari bab model Pengajaran Langsung yang ditulis oleh Ismail dalam modul Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi Guru Mata Pelajaran Matematika.
Model pembelajaran langsung dirancang secara khusus untuk menunjang proses belajar siswa berkenaan dengan pengetahuan prosedural dan deklaratif  yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Namun demikian, model pembelajaran langsung tidak sama dengan metode ceramah, tetapi ceramah berhubungan erat dengan model pembelajaran langsung. Pembelajaran langsung memerlukan perencanaan dan pelaksanaan yang cukup rinci terutama pada analisis tugas. Meskipun pembelajaran langsung lebih berpusat pada guru, harus tetap menjamin terjadinya keterlibatan siswa.
Tahapan-tahapan penting dalam model pembelajaran langsung adalah sebagai berikut. Pada awal pelajaran guru menjelaskan tujuan, latar belakang pembelajaran, dan menyiapkan siswa untuk memeasuki pembelajaran materi baru dengan mengingatkan kembali pada hasil belajar yang telah dimiliki siswa yang relevan dengan materi yang akan dipelajari (apersepsi ). Tahap ini dilakukan untuk memberikan motivasi pada siswa untuk berperan penuh pada demonstrasi mengenai ketrampilan tertentu. Pada tahap mendemonstrasikan pengetahuan, hendaknya guru memberikan informasi yang jelas dan spesifik kepada siswa, sehingga akan memberi   dampak yang positif terhadap proses belajar siswa. Kemudian guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan latihaan dan memberi umpan balik terhadap keberhasilan siswa.Pada tahap ini siswa diberi kesempatan untuk menerapkan pengetahuan atau keterampilan yang dipelajarinya dalam kehidupan nyata
Rangkuman.
Langkah Dirct Instruction:
1. Apersepsi
2. Presentasi Materi Ajar atau Demonstrasi ketrampilan tertentu
3. Latihan dan umpan balik dari siswa
4. Penerapan dalam kehidupan nyata
read more...

Selasa, 06 April 2010

KTSP

PERANGKAT KBM SEMESTER 2

Perangkat KBM sem 2 -
RPP SEMESTER 2

RPP SEM 2 -




Download
soal PLSV
soal Bilangan Bulat dan Pecah
soal Kesebangunan kl 9
soal Peluang kejadian
soal latihan UN essay soalA
soal latihan UN essay soalB
latihan ngarap
Soal faktorisasi suku aljabar
RPP Bilangan pangkat dan bentuk akar
RPP latihan mulang
RPP Unsur Lingkaran
Soal Lingkaran

Pengembangan PembelajaranTatap Muka, Tugas Terstruktur dan Tugas Mandiri Tidak terstrktur
Berdasarkan Standar Isi, Beban belajar diartikan sebagai waktu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk mengikuti kegiatan pembelajaran dengan sistem :
1. Tatap Muka (TM)
2. Penugasan Terstruktur (PT)
3. Tugas Mandiri Tidak Terstruktur (TMTT)
TM : Kegiatan pembelajaran yang berupa proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik.
PT : Kegiatan pembelajaran berupa pendalaman materi untuk siswa, dirancang guru untuk mencapai kompetensi.Waktu penyelesaian penugas ditentukan oleh guru.
TMTT : Kegiatan pembelajaran berupa pendalaman materi untuk siswa, dirancang guru untuk mencapai kompetensi. Waktu penyelesaian penugasan ditentukan oleh siswa.
Sekolah standar yang menerapkan sistem paket, beban belajarnya dinyatakan dalam jam pelajaran ditetapkan bahwa satu jam pelajaran tingkat SMA terdiri dari 45 menit tatap muka untuk Tugas Terstruktur dan Kegiatan Mandiri Tidak Terstruktur memanfaatkan 0% – 60% dari waktu kegiatan tatap muka
Kegiatan Tatap Muka
Untuk sekolah yang menerapkan sistem paket, kegiatan tatap muka dilakukan dengan strategi bervariasi baik ekspositori maupun diskoveri inkuiri. Metode yang digunakan seperti ceramah interaktif, presentasi, diskusi kelas, diskusi kelompok, pembelajaran kolaboratif dan kooperatif, demonstrasi, eksperimen, observasi di sekolah, ekplorasi dan kajian pustaka atau internet, tanya jawab, atau simulasi
Kegiatan Tugas terstruktur
Bagi sekolah yang menerapkan sistem paket, kegiatan tugas terstruktur tidak dicantumkan dalam jadwal pelajaran namun dirancang oleh guru dalam silabus maupun RPP (Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran). Oleh karena itu pembelajaran dilakukan dengan strategi diskoveri inkuiri. Metode yang digunakan seperti penugasan, observasi lingkungan, atau proyek.
Kegiatan Mandiri Tidak Terstruktur
Kegiatan mandiri tidak terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang dirancang oleh guru namun tidak dicantumkan dalam jadwal pelajaran baik untuk sistem paket maupun sistem SKS. Strategi pembelajaran yang digunakan adalah diskoveri inkuiri dengan metode seperti penugasan, observasi lingkungan, atau proyek.
Materi diambil dari Bintek KTSP
read more...

Sabtu, 20 Februari 2010

RPP Unsur-unsur Lingkaran

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/ Semester : VIII/ 2
Alokasi Waktu : 2 x 40 menit

A. Standar Kompetensi :
     Menentukan unsur, bagian lingkaran serta ukurannya.
B. Kompetensi Dasar(KD) :
     Menggunakan sudut pusat, panjang busur, luas juring dalam pemecahan masalah
C. Indikator Pencapaian :
     1. Mengenal hubungan sudut pusat dan sudut keliling jika menghadapi busur yang sama
     2. Diketahui besar sudut pusat, dapat menentukan besarnya sudut keliling, dan sebaliknya.
D. Rumusan Masalah :
     Pengertian sudut pusat dan sudut keliling serta perbandingannya, menjadi suatu kendala yang berarti bagi    siswa yang tergolong kurang pandai. Hal ini menjadi tantangan yang sangat besar bagi seorang guru. Pada kesempatan kali ini akan dicobakan suatu metode pendekatan pada siswa untuk membantu siswa dalam mempelajari pengertian sudut pusat dan sudut keliling serta perbandingannya dengan menggunakan model pembelajaran STAD.
     Yan jadi masalah adalah dapatkah model pembelajaran STAD membantu siswa yang kurang pandai untuk lebih memahami pengertian sudut pusat dan sudut keliling serta perbandingannya?
E. Materi Pelajaran :
     Sudut pusat dan sudut keliling pada lingkaran
F. Sekenario Pembelajaran :

Selengkapnya silahkan di download
download
read more...

Senin, 05 Januari 2009

TEACHER CERTIFICATION AS AN EFFORT TO OPTIMIZE THE TEACHERS’ COMPETENCY (Final Reflection)

Mathematics teacher certification through the point of education is one of the government's efforts to improve the competency of teachers in mathematics. Improving the competence of teachers of mathematics includes Will, Attitude, knowledge, skill and experience.

Will include a teacher's mentality, the sense of covering optimistic, positive thinking, pray, the intention of worship, feeling happy and so forth.
Attitude includes a teacher's attitude, the attitude includes the friendly, polite, respect the students, and so forth
Knowledge includes the knowledge, the load demand that a teacher must have extensive and deep knowledge.
Skill cover skills, the load of teachers in using the skills of learning tools, tools, skills in management of classes and so forth
Experience includes experience, the load demand that a teacher needs to have experience and a broad insight.

As for the learning of mathematics school, EBBUT and STREEKER provide basic mindset that math is the school is looking for patterns of activities and relationships, we split the problem (problem solving), research (Investigation) and communication equipment.
The implication in learning mathematics, the teachers give the broadest opportunity to students to activities of discovery, an experiment, concluding, stimulating the emergence of problems in mathematics, helping students to solve their problem, giving the opportunity to think, encourage curiosity, logical thinking, consistent, identify and explain the characteristics of mathematics and would like to encourage students to read and write about mathematics.

In another opportunity, BRUNNER argues that in learning mathematics is required to adjust the growth pattern of the flow of thinking of the student. Thus, in his writings BRUNNER share in the three stages of learning mathematics, namely: Enactive, Iconic and Symbolic.
Enactive activities are learning math by using objects ground.
Iconic is the activity of learning mathematics by linking day-to-day problems with the model of mathematics
Symbolic is the activity of learning mathematics using symbols in the symbol-solving.
The idea presented by Bloom, Ebbut , Streeker, and Brunner is very important to be in the implementation plan of the quality of both.


Experience
It is not easy to leave long pradigma to new pradigma in learning mathematics, from curriculum based center to the school-based curriculum, from the model, which concentrated on learning to become teachers based on student learning, and so forth.
All requires a lot of the preparation of students, teachers, curriculum, the government, and the existing infrastructure in school . so learning pradigma so that students can be actively implemented properly.

Expectation
Accelerating progress in education in Indonesia becomes an expectation by the various students, teachers, community and country.
School as a base to become the focus of education is expected by the various parties to be able to immediately improve the quality of education so that it commensurates with other countries.
Teachers in education as the accused spearhead to continuously improve professionalism as educators. For the government program with the opening of teacher certification through the point of education is expected to increase the maximum teachers' professionalism.
read more...

Rabu, 31 Desember 2008

USAHA GURU DALAM MELIBATKAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam standar isi mata pelajaran matematika untuk SMP/MTa pada bagian latar belakang disebutkan bahwa mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistimatis,kritis, dan kreatif, seta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlikan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif. Oleh karena itu, untuk dapat mencapai seperti apa yang diharapkan diatas, bagaimana peran guru dalam mengelola pembelajaran di kelas mempunyai pengaruh yang sangat besar. Ini berarti strategi ataupun model pembelajaran yang akan dipilih dan digunakan oleh guru akan sangat berperan dalam ikut menentukan keberhasilan tujuan tersebut.
Dalam pembelajaran matematika, sebagian guru masih menerapkan metode konvensional. Proses pembelajaran yang dilaksanakan dikelas cenderung bertumpu pada aktivitas guru. Guru berperan aktif sedangkan siswa hanya menerima pengetahuan yang disampaikan guru. Dalam hal ini proses pembelajaran matematika masih belim dapat melibatkan siswa secara aktif. Seto mulyadi mengungkapkan bahwa matematika merupakan ilmu pasti yang menuntut pemahaman dan ketekunan berlatih. Menghafal rumus-rumus dan cara mengerjakan soal bukan langkah yang tepat membuat anak cakap dalam ilmu ini. Guru seharusnya memiliki metode mengajar yang dapat menggugah minat siswanya .( http://ganeca.blogspirit.com)
Dalam pembelajaran konvensional, yang mana guru menjadi yang paling dominan didalam pembelajaran akan berdampak tidak baik. Interaksi antara guru dengan siswa tidak berjalan dengan baik. Siswa pada umumnya bersifat individual, enggan berbagi dengan temannya dan belim mampu bekerja sama dengan baik. Sebagian besar siswa enggan bertanya pada guru apabila mereka mengalami kesulitan dalam pembelajaran matematika. Siswa cenderung malu malu, takut dan tampak ragu ragu jika diminta untuk mengerjakan didepan kelas atau menjawab pertanyaan guru. Sehingga guru harus menunjuk siswa sebagai upaya agar siswa terlibat aktif dalam pembelajaran.

B. Perumusan Masalah
Menyikapi dari uraian diatas, menurut hemat penulis adalah magaimanakah usaha guru didalam bembuat siswa agar mereka terlibat aktif dalam pembelajaran matematika ?

BAB II
USAHA GURU DIDALAM MELIBATKAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Tugas seorang guru didalam pembelajaran matematika dituntut untuk membekali peserta didiknya dengan kemampuan berfifir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif. Oleh karena itu dalam pembelajaran matematika guru bukan hanya sekedar menyampaikan materi, menghafal rumus, dan memberikan latihan dan soal soal saja, tetapi guru dituntut untuk bisa melibatkan peran aktif siswa didalam proses pembelajaran matematika, sehingga kecakapan siswa dalam matematika benar benar dapat terwujud.
Usaha guru dalam melibatkan siswa secara aktif tercermin dalam kegiatan guru yang mencakup minimal dua hal, yaitu :
1. Mempersiapkan Pengelolaan Kelas Yang Baik.
Pengelolaan kelas adalah suatu upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar ( Ahmadsudrajad.file.wodpress.com). Pengelolaan kelas ini meliputi pembinaan nilai rapor, pemberhentian tingkah laku yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran , penyelesaian tugas tugas siswa secara tepat waktu, maupun penetapan norma kelompok yang produktif.
Dalam pengelolaan kelas mencakup pengaturan orang (dalam hal ini siswa ) maupun fasilitas yang ada pada kelas tersebut.
Dalam pengelolaan kelas, guru dituntut untuk mengadakan pendekatan pada peserta didik dengan didasari rasa tulus, menerima dan menghargai siswa apa adanya serta mengerti dari sudut pandang siswa . Disamping itu guru juga dituntut mampu menggunakan fasilitas yang dimiliki kelas tersebut sebesar-besarnya untuk membelajarkan siswa.
2. Penggunaan Model Model Pembelajaran.
Dewasa ini banyak ahli yang berpendapat bahwa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang baik perlu sekali melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran tersebut. Dalam pembelajaran matematika perlu dibuat model pembelajaran yang berorientasi pada pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM). Ada berbagai macam model –model pembelajaran yang berorientasi pada PAKEM tersdebut. Disamping itu ada juga model pembelajaran kooperatif, pendekatan kontekstual, pembelajaran berdasrkan masalah ataupun model penemuan(inkuiri). Kesemuanya itu berorientasi untuk melibatkan siswa secara aktif didalam proses pembelajaran matematika.
Berikut ini beberapa contoh model-model pembelajaranyang dapat kita gunakan, antara lain :

A. Tipe JIGSAW
Pada model ini , kelas dibagi menjadi beberapa kelompok dengan 4-6 orang. Setiap kelompok dinamai kelompok jigsaw (gigi gergaji). Pelajaran dibagi dalam beberapa bagian/seksi sehingga setiap siswa mempelajari salah satu bagian pelajaran tersebut. Semua siswa dengan bagian pelajaran yang sama belajar bersama dalam sebuah kelompok, dan dikenal sebagai Counterpart Group (CG). Dalam setiap CG siswa berdiskusi dan mengklarifikasi bahan pelajaran dan menyusun sebuah rencana bagaimana cara mereka belajar kepada teman mereka dari kelompok lain. Jika sudah siap, siswa kembali ke kelompok jigsaw mereka, dan mengajarkan bagian yang dipelajari masing masing kepada temannya dalam kelompok jigsaw tersebut.
B. Tipe STAD
Dalam STAD, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 4-5 orang siswa. Masing masing kelompok terdiri dari siswa yang berkemampuan heterogen. Guru memberikan pelajaran , kemudian siswa bekerja dalam kelompok, saling membantu satu sama lain untuk memahami materi dan mengerjakan tugas. Kemudian semua siswa mengerjakan kuis secara individu.
C. Tipe TGT
TGT menekankan adanya kompetisi seperti pada STAD, tetapi kompetisi dilakukan dengan cara membandingkan kemampuan antar anggota tim dalam bentuk “turnamen”. Dalam turnamen ini kelompok terdiri dari 3 siswa yang sesuai dengan nilai matematika sebelumnya. Siswa yang mempunyai pencapaian tinggi akan bermain dengan siswa yang mempunyai pencapaian tinggi, dan siswa yang mempunyai pencapaian rendah akan bermain dengan siswa yang mempunyai pencapaian rendah.
D. Tipe TAI
Model pembelajaran tipe TAI dikembangkan oleh slavin dengan beberapa alasan, yaitu :
a. Model ini mengkombinasikan keunggulan kooperatif dan program pengajaran individual.
b. Model ini memberikan tekanan pada efek social dari belajar kooperatif.
c. TAI disusun untuk memecahkan masalah dalam program pengajaran, misalkan dalam hal kesulitan belajar secara individu.
Tahapan tahapan dalam model TAI antara lain : tes penempatan dan pembentukan kelompok, belajar secara individu, belajar kelompok, tes, perhitungan nilai kelompok dan penghargaan bagi kelompok.
TAI mempunyai dinamika motifasi seperti SAD dan TGT. Meskipun demikian , individualitas adalah bagiandari TAI yang membuatnya berbeda dari STAD dan TGT. Jika siswa dapat berkembang lebih cepat , maka mereka tidak harus menunggu sampai selesainya kelas (Robert E. Slavin, 1995:7-8).
E. Model Pendekatan Berdasar Masalah.
Terdapat lima tahapan utama didalam model pendekatan berdasar masalah, yaitu :
1. Orientasi siswa terhadap masalah itu.
2. Mengorganisasikan siswa untuk belajar
3. Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok.
4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya.
5. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.

F. Model Pendekatan Kontekstual
Model pendekatan kontekstual adalah suatu konsep pendekatan pembelajaran yang mengaitkan antara materi yang akan diajarkannya dengan situasi dunianyata siswa dan mendoronga siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif (DIT.PLP,2003:5), yaitu :
a. Konstruktifisme (Construktivism)
b. Menemukan (inkuiri)
c. Bertanya (Questioning)
d. Masyarakat Belajar (Learning Community)
e. Pemodelan ( Modeling)
f. Refleksi (Reflection)
g. Penilaian yang sebenarnya (Authentic assessment)
G. Model Penemuan (inkuiri)
Model penemuan (inkuiri)adalah serangkaian kebiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berfikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Pada umumnya , kegiatan Tanya jawab antara guru dengan siswa dilakukan dalam proses berfikir tersebut (WIna, 206:194). Selanjutnya Wina menyebutkan ada beberapa hal yang menjadi cirri utama strategi pembelajaran inkuiri, yaitu :
a. Srategi inkuiri menekankan pada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan. Ini berarti bahwa siswa ditempatkan sebagai subjek belajar.
b. Seluruk aktifitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawabannya sendiri dari sesuatu yang dipertanyakannya. Oleh karena itu, dalam strategi ini guru ditempatka sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa.
c. Tujuan dari strategi pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berfikir siswa secara sistematis, logis, dan kritis.
Pada umumnya, langkah-langkah pembelajaran dengan metode inkuiri adalah sebagai berikut (Wina, 2006, 199-203) :
a. Orientasi
b. Perumusan Masalah
c. Merumuskan Hipotesis
d. Mengumpulkan data
e. Menguji Hipotesis
f. Merumuskan Kesimpulan

Dan tentunya masih banyak lagi model model pembelajaran yang kesemuanya itu berorientasi untuk melibatkan siswa secara aktif didalam proses pembelajaran.

BAB III
USAHA GURU DALAM MELIBATKAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA ANTARA TEORI DAN PENGALAMAN

Model-model pembelajaran moderen yang dipaparkan diatas disamping sangat efektif dan teruji didalam melibatkan siswa secara aktif pada proses pembelajaran matematika, metode tersebut juga menuntut guru untuk benar-benar mempersiapkan diri pada proses pembelajaran yang akan disampaikan. Disamping itu metode-metode pembelajaran tersebut juga mampu mendorong siswa untuk aktif dalam pembelajaran, bicara, mengemukaan pendapat, dan bekerja secara bersama-sama dengan kelompok untuk memahami materi pembelajaran yang disajikan dan direncanakan oleh guru. Dengan demikian diharapkan siswa lebih menguasai materi yang dipelajarinya. Tentusaja kesemuanya itu harus didampingi oleh bimbingan seorang guru yang profesional .
Namun demikian tentusaja masih banyak kendala-kendala yang dihadapi oleh guru di lapangan. Terlebih lagi pada sekolah sekolah rintisan atau sekolah sekolah pinggiran. Kendala kendala tersebut antara lain :
1. Fasilitas fasilitas sekolah yang belum memadai.
Disekolah-sekolah rintisan ataupun sekolah sekolah pinggiranfasilitas pembelajaran masih sangat minim. Belum adanya perpustakaan yang memadai, laboratorium matematika belum ada, dan alat alat peraga yang masih minim menghambat siswa didalam mencari sumber belajar yang mereka butuhkan.
2. Kemampuan siswa yang terbatas.
Kemampuan siswa yang sangat terbatas menjadi tantangan yang sangat besar bagi seorang guru untuk menghidupkan suasana pembelajaran kelas yang harmonis.Kurang mampunya mereka dalam berfikir kreatif, merasa rendah diri dan malu-malu menjadi kendala paling besar dalam proses pembelajaran yang aktif dan kreatif.
3. Lingkungan yang tidak mendukung.
Lingkungan sangat berpengaruh dalam proses pembelajaran . Karakteristik masyarakat dipinggiran yang senderung apatis dalam pendidikan menjadikan siswa juga apatis dalam belajar. Terlebih lagi bila lingkungan keluarga tidak begitu peduli dengan pendidikan anaknya. Maka seolah-olah siswa menjadi kehilangan lentera keluarga yang akan membanyu proses pembelajaran di sekolah.

Hal-hal yang seperti inilah yang sering menjadi kendala dilapangan yang kerap dijumpai seorang guru didalam fungsinya sebagai pendidik..

BAB IV
PENUTUP
Usaha menjadikan pendidikan di Indonesia lebih maju adalah menjadi harapan bagi seluruh warga Negara Indonesia. Guru sebagai ujung tompak pendidikan bangsa mempunyai tanggung jawab atas terselenggaranya pendidikan yang baik.
Usaha guru didalam memajukan pendidikan bangsa dapat dilihat dalam berbagai upaya guru didalam menuntun siswa untuk menguasai materi pembelajaran. Upaya guru melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran adalah salah satu usaha guru untuk mendidik siswa agar lebih mendalami materi pelajaran yang dipelajari.
Pengelolaan kelas yang baik, didukung dengan metode pembelajaran yang baik pula , diharapkan mampu memberi solusi yang tepat guna menjadikan siswa berperan aktif dalam proses pembelajaran.
Keterbatasan sarana pembelajaran di sekolah, keadaan lingkungan masyarakat dan kemampuan siswa menjadi kendala yang sangat dirasakan oleh guru. Kendala tersebut merupakan tanggung jawab bukan guru saja, melainkan juga tanggung jawab lingkungan keluarga, masyarakat, dan Negara. Bila kendala kendala tersebut dapat diatasi bersama maka insyaAllah pendidikan yang selalu dicita-citakan oleh bangsa kita akan segera terwujud.



DAFTAR PUSTAKA

Ahmadsudrajad.file.wodpress.com. di akses pada tanggal 28 Oktober 2008
Departemen Pendidikan Nasional, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama (2003). Pendekatan Kotekstual ( Contextual Teaching and Learning (CTL)). Jakarta: Direktorat PLP
http://ganeca.blogspirit.com/archive/2005/05/27/ge_mozaik_mei_2005_%E2%80%93 _bagaimana_mengajar_matematika_yang_benar.htm.
Robert E. Slavin.(1995). Cooperative Learning: Theori, Research and Practise. Boston: Allyn and Bacon.
Wina Sanjaya (2006). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta:Kencana Prenada Media.
read more...

Kamis, 25 Desember 2008

PENERAPAN MODEL-MODEL PEMBELAJARAN DI SEKOLAH PINGGIRAN (Antara teori dan pengalaman)

Membaca makalah Dr. Marsigit dengan judul pengembangan model pmbelajaran matematika saya jadi ingin menulis pengalaman berikut ini.
Hampir setiap kali mengikuti diklat, model-model pembelajaran matematika menjadi salah satu materi yang tidak pernah ketingalan untuk disampaikan dan disimulasikan di Diklat tersebut. Tentusaja hal itu mempunyai harapan agar seorang guru matematika dapat menerapkan model-model pembelajaran matematika yang inovatif yang nantinya diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran disekolah masing-masing.
Dalam kenyataan yang kami alami, setelah kembali ke sekolah ada beberapa hambatan yang saya hadapi( mungkin juga dialami oleh rekan-rekan yang mengajar disekolah pinggiran/ rintisan seperti saya) untuk mempraktekkan hasil diklat tersebut.diantaranya adalah
- saat diskusi,dalam satu kelompok biasanya didominasi oleh siswa yang paling pandai.
- siswa yang merasa kurang mampu tidak berinisiatif untuk ikut peran serta didalam penyelesaian LKS, bahkan terkesan sekedar nunut nama pada kelompoknya.
- saat mempraktekkan model-model pembelajaran "jig shaw" misalnya atau yang lain, ruang kelas terasa kurang leluasa untuk menampung siswa sebanyak 40 tersebut.
- siswa kurang referensi/ buku bacaan.
Adapun beberapa hal yang menyebabkan terjadinya hal itu antaralain mungkin adanya :
1. Kurang biasanya siswa dalam diskusi.
2. Kompetensi siswa yang sangat minim.
3. Kurangnya gedung/ ruang kelas.
4. lemahnya minat baca siswa.
5. Atau mungkin gurunya yang kurang kreatif, inovatif dan pengalaman ya ?
Mohon masukan dari pembaca. Terima kasih.
read more...

Selasa, 23 Desember 2008

KENDALA YANG SERING SAYA JUMPAI DI SEKOLAH

Kendala yang sering saya jumpai di sekolah pinggiran didalam melaksanakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran adalah adanya keterbatasan Ruang Kelas, kurangnya sarana dan prasarana yang mendukung pembelajaran, dan juga kompetensi siswa yang sangat minim.
Tidak cukup kiranya hanya mengandalkan semangat kerja seorang pendidik. Tanpa adanya dukungan dari berbagai fihak terkait, tanpa adanya atmosfer lingkungan sekolah yang nyaman, dan juga tanpa adanya media pembelajaran yang memadai , maka sangatlah sulit bagi seorang guru untuk melaksanakan obsesinya sebagai seorang pendidik.
read more...

Senin, 01 Desember 2008

USAHA SAYA UNTUK MENINGKATKAN PBM MATEMATIKA MENUJU KUALITAS KEDUA (antara teori dan pengalaman)

Tinggalkan yang lama,
Menyongsong pradigma baru pendidikan Indonesia
Guru menerangkan, siswa mendengarkan. Guru bertanya, siswa menjawab. Guru member contoh soal, siswa mengerjakannya. Itulah yang biasanya terjadi pada saat proses belajar mengajar matematika. Bagaimana siswa akan dapat mandiri ?
Inovasi pembelajaran matematika perlu di canangkan untuk menuju kualitan kedua. Tentunya hal ini tidaklah semudah membalikkan tangan. Kekuatan matematika harus dibangun pada diri siswa, guru maupun lingkungan belajar. Menanamkan konsep matematika yang baik bukan dengan sekedar memberi informasi pada pesera didik. Siswa harus mampu mengkonstruksi matematika pada dirinya. Untuk itulah peranan guru sebagai fasilitator antara siswa dengan matematika, perlu dikembangkan. Guru harus benar-benar bisa memposisikan diri sebagai fasilitator yang baik. Peningkatan kompetensi guru menjadi tuntutan yang harus dipenuhi olep setiap pendidik.
Untuk itulah saya mulai mencoba membenahi proses belajar mengajar. Langkah demi langkah tapi pasti, perubahan proses pembelajaran pasti akan tejadi. Pembenahan tersebut saya dimulai dari :
1. Mempersiapkan perencanaan pembelajaran yang baik dan inovatif
Perencanaan pembelajaran adalah 60% dari proses belajar mengajar, Artinya adalah bahwa proses pembelajaran akan sukses atau tidak saangat tergantung dengan perencanaan pembelajaran tersebut. Oleh karena itu Perencanaan pembelajaran yang baik menjadi target utama pembenahan PBM saya.
2. Menggunakan model-model pembelajaran yang kooperatif disertai model pendekatan berbasis masalah, maupun metode penemuan(inkuiri)
Dewasa ini banyak ahli yang berpendapat bahwa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang baik perlu sekali melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran tersebut. Dalam pembelajaran matematika perlu dibuat model pembelajaran yang berorientasi pada pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM). Ada berbagai macam model –model pembelajaran yang berorientasi pada PAKEM tersdebut. Disamping itu ada juga model pembelajaran kooperatif, pendekatan kontekstual, pembelajaran berdasrkan masalah ataupun model penemuan(inkuiri). Kesemuanya itu berorientasi untuk melibatkan siswa secara aktif didalam proses pembelajaran matematika.
3. Evaluasi dan assessment
Evaluasi dan assessment merupakan rekaman dari hasil pembelajaran kita. Evaluasi dan assessment yang baik merupakan data yang valid dari perkembangan pembelajaran siswa. Oleh karena itu Evaluasi, hasil evaluasi dan assessment harus terdokumen dengan baik sehingga nantinya bias digunakan sebagai bahan refleksi.
4. Refleksi
Refleksi dari proses pembelajaran sangat penting bagi kita untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan kita selama proses belajar mengajar. Refleksi bias dari diri kita sendiri, siswa ataupun teman sejawat. Hasil refleksi akan kita jadikan pijakan untuk perencanaan pembelajaran selanjutnya.
Perencanaan pembelajaran, proses pembelajaran, metode, model pembelajaran, evaluasi, assessment dan refleksi menjadi tolok ukur yang dapat langsung dilihat apakah pembelajaran kita sudah mencerminkan bahwa diri kita telah menjadi guru yang inovatif atau belum. Tentunya kita perlu segera berbenah diri untuk menyongsong pradigma baru pendidikan Indonesia.
Kiranya tidak bias ditunda-tunda lagi untuk memulai meningkatkan mutu pembelajaran matematika menuju kualitas kedua. Dimulai dari sekarang, dan dimulai dari diri sendiri.
read more...